Breaking News

Kisah, Bikin Lari dari Ruang Forensik

ni terjadi pada tahun 1998 di ruang forensik rumah sakit Dr Sarjito Yogyakarta. Ruang forensik itu nama lain dari ruang jenazah sebuah rumah sakit. Apabila Anda diperkirakan takut, maka tinggalkan tulisan ini. Namun yang menarik adalah bacaan Al-Fatikhan, Al-‘Alaq, dan An-Naas. Untuk apa bacaan itu?

Kisah nyata ini kirim oleh Saudara Rudi di Sleman Yogyakarta, setelah ada seorang Saudara lain yang mengirim sebuah video keadaan ruang forensik tersebut. Video silakan putar dari menu Video sebelah kanan.

Ilustrasi lorong rumah sakit (koleksi Rudi Sleman)

Inilah kisah selengkapnya, yang di tulis langsung oleh Mas Rudi, di kirim melalui WA baru-baru ini (2 April 2017).

Aku dulu pernah bikin teman temanku lari ketakutan di ruang forensik: kejadiannya pada tahun 1998-nan.

Waktu itu adik sepupu saya laka tunggal di Umbulharjo Jogja, jatuh nabrak pembatas jalan, dan kejadian itu bersama teman-temannya, juga ada sepupu saya yang lain karena mereka bersama dalam rombongan, pas waktu itu aku baru pulang dari Malang, dan baru mau nyantai melepas lelah, datang rombongan pemuda dan sepupuku, ngabari kalo Antok laka lantas dan sekarang sudah di RS Sarjito Jogja.

Langsung saja aku bawa mobil dinas bosku ke Sarjito, sampai UGD adik sepupuku bilang dengan takut-takut karena menutupi sesuatu.., Mas… Antok tidak di UGD…, dia…

Aku langsung jawab : “YA.., DI KAMAR MAYAT…!! “, ia mas…, dia jawab
Adik sepupuku ketakutan karena merasa dia yang mengajak pergi dengan teman-temannya.
Saya tanya, “lha terus sudah kalian tengok apa belum..?”
Sudah lihat ke kamar mayat… Gimana…?”
“Belum mas…,” dia jawab,

Kami juga bingung bagaimana ini dan bagaimana memberi tahu bapak ibunya, lha Om Pri orangnya serem dan apalagi dia Marinir.., piye mas… Ini tengah malam dan ruang forensik dan kamar mayatnya sepi kayak gitu mas…??

“Teman-teman sepupuku semua pada mendekati aku dan bilang, “maaf Om ruang forensiknya di ujung Selatan barat RS ini dan agak ngeri.. kami semua belum berani kesana..”, katanya.

“Lha kalian trus ngapain saja standby nongkrong disini cuma diam saja tidak lihat kondisi jenasah..? Tanya aku pada mereka semua, “takut Om…”, dia bilang.

“Nah sekarang siapa yang mau kesana…?”, tanyaku.
Mereka semua geleng kepala…, berarti tanda tidak ada yang berani ke tempat itu, “nah kalau tidak berani jangan kesana, karena saya mau kesana.., langsung aku tinggalkan tempat dan jalan…, ehh… Mereka semua ternyata langsung mengejar ku karena aku cepat berjalan, sampai di teras depan gedung ada petugas piket ruang dan aku tanya petugas dan langsung dipersilahkan masuk oleh petugas jaga, perlahan aku masuk menuju ruang yang ditunjuk petugas yang tadi menyampaikan bahwa jenazah belum disucikan dan masih belum diapa-apakan.

Ternyata benar… jenazah masih kotor bercak darah dan pakai jaket jeans yang koyak akibat laka, dan maaf… mata jenazah belum menutup dan masih terbuka, teman-teman korban mengendap-endap mendekati saya, lalu Ku dekati bahkan ku pegang kepalanya yang basah serta rambutnya yang basah karena darah yang membeku.

Aku sendiri tidak tau… tiba-tiba berani, dan kuelus kepala belakang seperti mengelus bola, dan kulihat di jidatnya ada lubang sebesar batang pensil yang amblas, aku sendiri heran, dan aku elus kepala belakang itu terasa ada pergeseran batok kepala “krekethek..!!”, Aku yakin belakang ada yang pecah karena tidak pakai helm…, dan teman-teman korban hanya melihat apa yang kukerjakan.

Ketika ku lihat mata masih terbuka, aku spontan bicara seakan akan bicara dengan orang yg masih hidup.
” Le’.., Antok…, Tulung yo le’ meremo mripatmu yoch, aku mung isone menehi dungo Al- Fatehah, tomponen karo tak suwunke apuro Gusti Allah SWT (Nak.. Antok… Tolong ya adik kecil tutuplah matamu ya, aku hanya bisanya memberi doa bacaan Al-Fatekhah, terimalah sekalian saya mintakan ampunan dari Allah SWT, red), langsung aku baca al-Fatekhah terus saya lanjutkan surat Al-Ikhlas dan Annas… Lha tanganku tak usap sekali dari jidat sampai ke bawah janggut.. Aku terkejut…, itu mata langsung menutup seperti orang tidur… Astagfirullah…  aku cukup kaget, dan teman-teman korban semakin berhimpitan karena sepertinya mereka merinding melihat apa yang saya lakukan...

Aku lihat ada yang agak geser posisi mendekatiku dan aku jadi agak risih lihat orang penakut, tapi ku lirik disampingnya, kananku ada slorok semacam loker rak.. Tapi tidak ada kuncinya, cuma ada semacam gagang pegangan tangan, aku cuma batin ini pasti slorok-an tempat simpan mayat…, dan perasaanku menduga ada isinya mayat.., ruangan forensik ini memang benar-benar dingin suhunya.

Karena melihat ada yang agak ndusel-ndusel saya dan jelas aku risih, dan tidak nyaman…., iseng-iseng ku buktikan dugaanku…, aku tarik spontan, slorokan itu kutarik dan astaga.. benar..!! kaki orang ada menjulur keluar…, memang tidak kutarik seluruhnya, kemudian kumasukkan lagi seperti semula, kontan semua berteriak dan lari keluar… anak-anak muda itu berhamburan lari dan jadi gaduh….!:$%&’

Petugas jaga terkesiap dan agak marah karena suasana gaduh…
“Ada apa… ada apa…!!??” tanya petugas jaga.
Tapi tidak ada yang menjawab pada lari meninggalkan gedung forensik.., aku jalan pelan keluar .., petugas piket itu tanya pada saya,
“Ada apa mas…., kok ribut gaduh dan pada lari…? Kenapa..?”
Waduh… aku juga pura-pura tidak bersalah… dan kujelaskan, mereka itu lari mungkin karena lihat mata mayat terbuka kok bisa ditutup merem pak…, mungkin mereka belum pernah tau.. Jadi Takut..!!!

Mayat yang mana…, Antok maksudnya..? Tanya petugas dan sambil menoleh dan mendekati jenazah…, petugas itupun agak mlonggok… Mungkin dia tau sebelumnya karena Antok sebenarnya sudah meninggal di TKP laka tunggal itu. Dan tidak langsung dibawa ke Sarjito, mayatnya malah hanya ditutupi koran dan olah TKP sambil tunggu mobil jenazah.

Aku pun terus keluar menyusul anak-anak muda itu yang masih heboh dengan kejadian kaki di slorokan. Habis itu aku sendiri juga bingung… kok bisa seperti itu ya…, dan selanjutnya aku hubungi orang tua Antok ya paklik (Om) dan bulikku yang berada di Surabaya.

Bingung saya adalah kalau saya perkirakan apakah Antok itu mungkin karena dekat dengan aku semasa hidupnya..? kok ya ngikuti permintaanku dengan bacaan Al-Quran tadi…? Hanya Allah yang mengetahui keanehan kisah nyata ini.
Demikian misteri bagiku juga.

Kiriman: Mas Rudi Sleman Jogjakarta

Catatan arti istilah
laka = kecelakaan
lantas = lalu lintas
Le’ = Nak, adik kecil
ndusel-ndusel = mendesak-desak mendekat

Tidak ada komentar