Breaking News

Dengan Hercules C130 Kami Menikmati Indahnya Puncak Jaya dan Kisah Kepolosan Anak Pedalaman Wamena Jayawijaya Papua

Ilustrasi Puncak Jaya, Gunung Jaya Wijaya
Pengalaman ini terjadi ketika saya bertualang di Papua, Wamena Puncak Jayawijaya. Ketika liburan sekolah saya memang ingin sekali melihat puncak Jayawijaya, sebagai anak kolong dari babe yang dinas di TNI AU naik pesawat C130 adalah hal yang biasa, gratis tidak usah bayar tiket.

Dengan pesawat inilah saya terbang mendekati Puncak Jaya, puncak tertinggi di Indonesia dan begitu indahnya pemandangan di Puncak Jaya itu, warna putih bagai mutiara terpantul dari salju yang memantulkan bias sinar matahari, sungguh indah dan seumur hidup tidak akan terlupakan olehku atas kebesaran Allah Pencipta dan penguasa Alam semesta, dan akhirnya kami beserta crew C130 Herkules mendarat di Wamena.

Bandara Wamena

Bandara Wamena (beritatrans)
Pintu pesawat terbuka udara dingin menyapa dari luar, uuchh.. Lumayan seperti dalam kulkas jam waktu itu menunjukkan pukul 15.30 WIT sudah terasa dingin sekali.., tapi terlihat dipinggir landasan warga pribumi berjajar semi bugil dengan koteka dan rumbai penutup dada serta tangan bersilang menutup daun telinga, mereka menonton kehadiran kami dan pesawat angkut logistik untuk daerah Jayawijaya.
Bandara Wamena Terbaru (2015-kemenhub)


Hotel Baliem Pilamo

Hotel Baliem Pilamo, Kini (sugegest-keyword)
Singkatnya, saya menginap di hotel “Baliem” namanya, sebuah hotel dan sekaligus markas prajurit TNI AU pada waktu itu tahun 1984, di depan hotel ada sebuah sekolah SD satu-satunya SD di kabupaten Wamena, saya lihat muridnya cukup banyak tapi maaf banyak yang tidak berbaju, nah saya dekati kelas yang terbuat dari pelepah pohon dan kayu yang disusun disebut bangunan honey.., nah saya lihat guru orang jawa karena PNS TNI AU yang diperbantukan, dan terlihat oleh saya guru dan murid sedang membahas… Pelajaran matematika sbb.

Kisah Kepolosan Anak Pedalaman Wamena
Guru : Ayo Tinus maju ke depan.. sambil menunjuk papan tulis dan murid itu menunggu perintah guru.
“nah Martinus.., kamu jawab hasil pembagian ini.. 8:2 =….berapa..?
“Hayo berapa…? Jawab..?”, Tanya guru.

Dengan senyum dan yakin Martinus menjawab dengan polos, 8 : 2 = 3..!!

Pak guru mengulang lagi pertanyaan itu, tapi jawaban tetap salah… Dan akhirnya untuk menjelaskan pak guru menggunakan alat peraga… Diambilnya buah sayur wortel..,
Dijejernya wortel itu 8 buah dimeja.

“Martinus….ini ada buah sayur wortel sebanyak 8 biji ……, nah sekarang kalau dibagi dua orang kamu dengan saya(guru), coba bagilah!.

Nah buah itu kamu pegang.. Dan sekarang kamu bagi…, kalo kamu bagi… Maka berapa yang kamu dapat dan berapakah yang saya dapat…? Itu adalah hasilnya. sekarang juga kamu bagi…

Setelah membagi, maka Martinus, nampak serius menjawab pertanyaan guru tadi ….

Ok bapak guru, saya bagikan buah ini…, sudah saya bagi dan hasilnya Bapak Guru mendapat 5.., dan saya 3 saja… Itu sudah cukup bagi saya. Untuk bapak guru dan saya murid bapak ….!!!

Guru : “Wah…. bagaimana ini . 🙄, dasar anak polos…”, gumamnya.

Akhirnya sang guru menjelaskan lebih detil lagi, bahwa matematika itu termasuk ilmu pasti atau ilmu alam.

Ilustrasi Anak sekolah di Wamena, Kini
Begitulah kisah petualang ini, meski ada yang lucu di sini, tapi itulah anak pedalaman Papua yang juga perlu mendapat perhatian sesama bangsa.

Kiriman Kang Rudy Jogjakarta

*Keterangan:
  • TNI AU = Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara
  • babe = bapak (ayah)
  • WIT = Waktu Indonesia Timur (Waktu Indonesia di bagi 3, barat-WIB, tengah-WITa, timur-WIT)
  • PNS = Pegawai Negeri Sipil (pegawai pemerintah)
  • anak kolong = sebutan sehari-hari anak tentara, atau anak yang dibesarkan dilingkungan militer

Tidak ada komentar