Breaking News

Manfaat Silaturrahmi, Kernet Angkot Ini Sukses

Meskipun ia kuliah tetapi tetap saja sebagai seorang kernet angkota yang harus Ucok lakoni. Ia selalu menyempatkan ngobrol dengan setiap penumpang yang dipandangnya seorang pekerja. Apabila penumpangnya seorang pekerja tetap maka ia selalu mengajak kenalan dan minta alamatnya, tidak berhenti sampai minta alamat tetapi ia juga berkunjung untuk bersilaturahmi kerumah orang tersebut, dan di agendakan dalam buku agenda hariannya. Di sela-sela bekerja dan kuliah, ia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke orang-orang yang ia kenal.

Itulah cuplikan kisah yang kami turunkan kali ini.
Cerita kisah ini didapatkan saat anggota Kissparry (LK) masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), sehingga sudah lebih dari 35 tahun yang lalu. Meskipun sebuah kisah lama, ia mengaku tidak mudah melupakannya dan selalu ingat kisah tersebut, disebabkan Kissparry merupakan orang-orang perantau yang ingin memperbaiki taraf hidup dan kehidupannya.

Guru kelas yang mengisahkan tersebut masih saudara kami juga, putranya Pak Dhe (Pak Tuo), keseharian kami memanggilnya dengan sebutan Mas, mereka juga seorang perantau.

Apabila ada kesamaan nama dan kejadian yang mungkin kurang berkenan, atau ada sedikit perbedaan cerita, kami mohon maaf.

Kisahnya seperti ini.

“Ada seorang mahasiswa dari Kota Medan yang merantau sambil kuliah di Jakarta, sebut saja namanya Ucok. Ia tidak memiliki keluarga di Jakarta, dan hanya dengan modal nekat saja, si Ucok ingin ke kota di Jawa. Pergi ke Jakarta hanya membawa bekal sekedar untuk naik bus sampai Jakarta.”, guruku mulai mengisahkan.

Di Jakarta Ucak tinggal dibawah jembatan seperti halnya kawan-kawan tuna wisma yang mengadu nasip di Jakarta.  Setiap hari Ucok bekerja sebagai kernet angkutan kota, untuk membiayai hidup sehari-hari dan sebagian di tabung. Ucok berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, ia ingin kuliah di perguruan tinggi yang siap menerimanya, karena ia hanya lulusan SMA (SLTA) yang sudah agak lama lulus.

Meskipun ia kuliah tetapi tetap saja sebagai seorang kernet harus Ucok lakoni. Setiap penumpang yang naik dan sudah punya pekerjaan tetap selalu mengajak kenalan dan minta alamat, tidak berhenti sampai minta alamat tetapi berkunjung untuk bersilaturahmi kerumah orang tersebut dan diagendakan dalam buku agenda hariannya, di sela-sela bekerja dan kuliah, ia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke orang-orang yang ia kenal.

Karena Ucok termasuk sopan, ramah, dan rendah hati banyak orang yang dikunjunginya kemudian menganggap ia sebagai keluarga.  Kenalan yang sering dikunjungi mulai dari Lurah sampai dengan pengusaha sukses. Di buku agendanya sudah lebih dari 1.000 orang yang menganggapnya seperti keluarga.

Kawan-kawan kampusnya menganggap Ucok mahasiswa yang stres karena pekerjaannya keliling berkunjung ke semua orang yang dikenal, dan hidupnya di kolong jembatan. Tetapi tidak sedikit yang segan terhadap Ucok karena termasuk mahasiswa genius.

Setelah selesai kuliah dan wisuda kegiatan masih sama, bukanya mencari kerja. Kawan dekat di kampus merasa heran dengan si Ucok, karena ia tetap menjadi kernet angkota dan tinggal di kolong jembatan, terlebih Ucok seorang sarjana dengan IP 3,99 nyaris 4,00 (sempurna).

Semenjak kuliah Ucok telah merencanakan akan membuka usaha, namun bagaiman cara mencari modal? Ketika awal bulan Ucok mulai berfikir keras untuk melaksanakan rencananya dengan mengumpulkan modal untuk usaha yang telah direncanakan semenjak kuliah tersebut. “Bagaimana saya mencari modal, tetapi hanya sebagai kernet angkot, dan hasilnya ditabung?”, fikirannya mulai kasak-kusuk. “Hal ini tidak mungkin karena untuk kebutuhan hidup saja pas-pasan, mencari pinjaman di bank lebih tidak mungkin lagi, jaminannya apa, tidur saja di kolong jembatan” fikirannya menegaskan.

Ucok memberanikan diri untuk mencoba mencari pinjaman kepada orang-orang yang pernah ia kunjungi selama ini. “Saya harus mencoba mencari pinjaman, semoga mereka percaya kepada saya dan bersedia meminjami”, gumamnya. Kemudian mulailah menyusun strategi, dan memilih orang-orang yang akan dikunjungi lebih awal.

Dalam bulan pertama Ucok mengunjungi 300 orang kenalan yang sudah dirintis selama kuliah dengan meminjam uang sebesar Rp 500.000,- dengan surat perjanjian uang tersebut akan dikembalikan selama 6 bulan, karena alasan untuk modal usaha dan kepercayaan mereka yang sudah dipupuk Ucok selama kuliah, maka usahanya tidak sia-sia, artinya di bulan pertama Ucok sudah mengantongi Rp 150.000.000,-. Uang yang terkumpul disimpan di bank, seluruh kenalan sejumlah 3.000 orang berhasil didatangi dalam waktu 3 bulan, semua kenalannya meminjamkan uang kepada Ucok, berarti sudah mengumpulkan 3.000 orang kali Rp 500.000 sama dengan Rp 1.500.000.000,-.

Dengan bekal ilmu menejemen yang diperoleh selama kuliah, uang tersebut digunakan untuk membeli supermarket tiga lantai dengan isinya (waktu itu) seharga Rp 1.350.000.000. Cadangan Rp 150.000.000 untuk pengembalian pinjaman 300 orang pertama.

Usahanya Ucok semakin berkembang dan maju karena ia berhasil mengajak seluruh kenalannya untuk belanja di supermarketnya dengan memberikan diskon khusus. Dengan sendirinya Ucok sudah memiliki pelanggan tetap kurang lebih 3.000 orang.

Sampai jatuh tempo 6 bulan seluruh pinjaman dengan 3.000 orang tepat waktu. Ucok beruntung dari 3.000 orang yang dipinjami 1.000 orang tidak mau dikembalikan, karena sudah diberi pelayanan yang ramah terhadap mereka setiap belanja.

Hikmah
Hikmah yang dapat diambil adalah silaturahmi, ulet, tekun dan kepercayaan merupakan modal yang tidak ternilai.

Semoga bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut.

Referensi : Cerita Mas Ismanto
Penulis : LikKasjo/LK/Sunaryo

Tidak ada komentar