Breaking News

Tawangsari Desa Leluhur

Dk Ngemplak, Desa Tawangsari,
Kecamatan Teras, Kab. Boyolali, Jateng
Mengunjungi desa kelahiran, kebanyakan orang ingin melakukan itu atau pasti ada keinginan untuk itu, terlebih bila masih ada saudara yang bertempat tinggal disana, keinginan itu bisa semakin bertambah kuat. Ditambah lagi bila ada leluhur yang ada disana, misalkan ada makam/petilasan orang tuanya atau kakek, nenek-nya. Akan menjadi lain apabila desa kelahiran yang ditinggalkan sudah tidak ada saudara yang masih bisa ditemui.
Kami masih sering melakukan kunjungan ke desa kelahiranku untuk silaturrahmi, yaitu ke Boyolali Jawa Tengah, tepatnya di Dukuh Ngemplak, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Disana ada saudara kandung dari ibu, dan mereka satu-satunya yang masih tinggal di Jawa, juga dikarenakan disana ada leluhur kami yakni makam ayah kami almarhum Bapak Kismo dan ada mBah Khasan Benawi, setidaknya itu yang menyebabkan hal tersebut. Iya, mendoakan kepada seseorang yang telah dipanggil oleh yang Yang Maha Kuasa memang bisa dari jauh dan dari dimanapun berada, namun kalau bisa hadir ditempat peristirahatan yang terakhir, berasa lain dan akan terasa lebih hikmat.


Tawangsari, Teras, Boyolali berjarak sekitar 70km dari tempat tinggalku di Semarang, sebenarnya adalah jarak yang dekat bila membandingkan misalnya Tenggulang Baru tempat tinggal adikku yang bungsu, Ndakir, untuk ke kecamatan jaraknya sekitar 60km, atau Tenggulang Baru (Ndakir) ke Sekayu tempat tinggal adikku Naryo, jarak dari Tenggulang Baru ke Sekayu ada sekitar 112km. Terlebih jalan menuju ke Tawangsari sudah sangat memenuhi syarat karena seluruh akses jalan menuju Tawangsari sudah dikeraskan, baik dengan aspal ataupun dengan cor beton, sehingga tidak ada alasan untuk tidak ke Boyolali.
Anak keturunan bapak Kismo – ibu Pariyem tersebar ke berbagai tempat, dan tidak ada satupun yang bertempat tinggal di desa Tawangsari, kecamatan Teras,  kabupaten Boyolali, provinsi Jawa Tengah, tempat kami dilahirkan. Saudara kandung saya ada 6 orang, 5 lahir di Boyolali dan seorang lahir di Ogan Komering Ulu (Sumsel). Tempat yang paling dekat dengan kampung kelahiran adalah saya karena saya bertempat tinggal di Semarang (Jawa Tengah). Dan masih untung ada saudara kami dari bani Khasan yang berada disana. Khasan adalah mbah saya, ayah dari ibu saya, dan saudara yang di Tawangsari adalah adik kandung ibu yang paling bungsu, bulek Parsinah  atau mBah Inah bila aku menyebutnya mewakili panggilan anak saya kepada beliau.



BenQ Corporation
Situasi di rumah mbah Tujimin/Inah (Doc.Wea)

Setiap ke Tawangsari sudah dapat dipastikan sebagai transit adalah rumah mbah Inah atau mbah Tujimin, suami mbah Inah adalah mbah Tujimin. Juga, dapat dipastikan saat disana keliling mengunjungi wilayah sekitarnya, sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat perkembangan yang ada. Tentu, tidak lupa pula kadang kami menyempatkan berkunjung ke obyek wisata terdekat, misal bendungan, waduk Cengklik, Selo (sela-sela gunung Merapi dan Merbabu), Tlatar, umbul Pengging. Apabila tidak sempat ke obyek-obyek wisata, setidaknya menikmati pemandangan sekitar desa yang penuh dengan hamparan sawah.
Karena sudah menjadi kebiasaan, sehingga apabila saya beserta keluarga tidak berkunjung ke sana dalam waktu yang agak lama, sudah dapat dipastikan mbah Inah telepon saya atau kadang kami yang telepon kesana. Isi percakapan telepon yang sering ditanyakan pertama adalah tentang keadaan dan kesehatan keluarga. “Assalamu’alaikum, saya jawab wa’alaikum salam mbah, langsung ditanya piye le kabare lak yo sehat-sehat to awakmu yo sak keluargo”, kata mbah Inah dengan bahasa Jawa, yang maknanya bagaimana nak kabarmu semoga sehat selalu juga keluargamu. Jawaban singkat saya “alhamdulillah mbah kulo sehat ugi keluarga semanten ugi (puji syukur kepada Tuhan eyang, saya sehat juga keluarga demikian pula). Kemudian dilanjutkan percakapan lainnya, dan kadang bergantian dengan yang lain. Demikian pula, jika saya yang telepon yang pertama disampaikan adalah masalah kesehatan.
Desa kelahiran sering terbayang di benakku, dan terkadang membayangkan pengalaman masa lalu ketika kami waktu kecil tinggal disana bersama keluarga besar bapak Kismo – ibu Pariyem (Kissparry). Kenangan masa silam akan terurai di blog ini, dalam episode yang berbeda, sekaligus harapan ke depan bersama Kissparry.
Salam.
Suwardi (Weanind News)

Tidak ada komentar